Georgia di Ambang “Revolusi Damai”: Jalanan Tbilisi Bersiap untuk Aksi Besar 4 Oktober
Jawasumatrapost — Aroma perubahan terasa di udara. Menjelang hari pemilu 4 Oktober, ribuan warga Georgia bersiap turun ke jalan dalam aksi yang mereka sebut sebagai “Revolusi Damai” — sebuah gerakan rakyat yang ingin mengganti pemerintahan tanpa pertumpahan darah.
Aksi ini digagas oleh kelompok oposisi yang menuduh pemerintah saat ini melakukan pelanggaran demokrasi dan menekan kebebasan sipil. Mereka menyerukan gerakan nasional tanpa kekerasan untuk menuntut pemerintahan baru yang “bersih dan transparan”.
“Kami tidak datang dengan batu atau senjata, kami datang dengan suara rakyat,” ujar Nika Melia, salah satu tokoh oposisi yang memimpin gerakan tersebut dalam orasinya di Tbilisi Square, Jumat malam (3/10/2025).
Namun, di sisi lain, pemerintah Georgia memperingatkan keras bahwa segala bentuk aksi yang mengganggu keamanan atau mengarah pada upaya penggulingan kekuasaan akan ditindak tegas. Menteri Dalam Negeri menyebutkan, ribuan aparat keamanan akan dikerahkan untuk menjaga ketertiban selama hari pemilu.
> “Kami tidak akan membiarkan pihak mana pun mengacaukan proses demokrasi. Setiap tindakan melanggar hukum akan ditangani secara tegas,” tegas juru bicara pemerintah, Giorgi Mgaloblishvili.
Situasi di Tbilisi saat ini dikabarkan tegang namun terkendali. Spanduk-spanduk bertuliskan “Freedom for Georgia” dan “Change Without Violence” mulai menghiasi jalan-jalan ibu kota. Banyak warga muda terlihat membawa bunga putih — simbol dari revolusi damai — sebagai tanda perlawanan tanpa kekerasan.
Pengamat politik regional menilai aksi ini bisa menjadi momen penting dalam sejarah politik Georgia, mengingat negara itu pernah mengalami Revolusi Mawar tahun 2003 yang menggulingkan presiden sebelumnya secara damai.
> “Georgia punya sejarah revolusi tanpa darah. Pertanyaannya, apakah kali ini rakyat bisa mengulangnya — atau apakah pemerintah akan menekan gerakan itu sebelum tumbuh besar?” ujar analis politik Kaukasus, Irakli Berdzenishvili.
Bagi banyak warga, 4 Oktober bukan sekadar tanggal pemilu, melainkan ujian demokrasi sejati bagi Georgia. Di tengah ketegangan dan harapan besar, dunia kini menatap Tbilisi — menunggu apakah “Revolusi Damai” benar-benar bisa membawa perubahan tanpa luka.






Tidak ada komentar