SUMBA BARAT DAYA — Data kemiskinan di Pulau Sumba menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam pembahasan arah pembangunan Nusa Tenggara Timur (NTT). Angka statistik bukan sekadar laporan, tetapi dapat menjadi dasar untuk memahami tantangan kesejahteraan masyarakat dan mengevaluasi kebijakan pembangunan.
Penggiat Media Sosial asal Kabupaten Sumba Barat Daya, Imanuel Karango, berpandangan bahwa membaca data kemiskinan perlu disertai pemahaman terhadap kondisi masyarakat di lapangan.
“Data membantu kita melihat gambaran persoalan. Namun, untuk memahami kebutuhan masyarakat secara utuh, kita juga perlu mendengar suara warga dan melihat kondisi di lapangan,” ujar Imanuel.
DATA BPS 2025: KEMISKINAN SUMBA MASIH MENJADI TANTANGAN
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur yang bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, persentase penduduk miskin di NTT tercatat sebesar 18,60 persen, dengan jumlah penduduk miskin sekitar 1,089 juta orang.
Di Pulau Sumba, data BPS mencatat persentase penduduk miskin di sejumlah kabupaten sebagai berikut:
Sumba Tengah: 29,23 persen.
Sumba Barat: 26,47 persen.
Sumba Barat Daya: 25,66 persen.
Sumba Timur: 25,64 persen.
Sebagai perbandingan, Kabupaten Sabu Raijua mencatat persentase penduduk miskin sebesar 27,18 persen pada periode yang sama.
Khusus Kabupaten Sumba Barat Daya, BPS mencatat jumlah penduduk miskin sekitar 97,68 ribu orang, dengan persentase sebesar 25,66 persen pada Maret 2025. Garis kemiskinan kabupaten tercatat sebesar Rp513.816 per kapita per bulan.
Angka-angka tersebut memberikan gambaran mengenai tantangan kesejahteraan masyarakat. Namun, data itu perlu dibaca sesuai periode pengukurannya dan tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan keberhasilan atau kegagalan pemerintahan tertentu.
MEMBACA ANGKA, MEMAHAMI KONDISI LAPANGAN
Menurut Imanuel, data kemiskinan perlu menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan yang dihadapi masyarakat, bukan sekadar bahan perdebatan mengenai angka statistik.
Di berbagai wilayah Sumba, kehidupan ekonomi masyarakat berkaitan erat dengan sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan usaha mikro. Akses terhadap air bersih, infrastruktur, pendidikan, layanan kesehatan, serta peluang ekonomi juga menjadi aspek yang perlu diperhatikan dalam pembangunan.
Karena itu, pembahasan kemiskinan perlu melihat beragam faktor yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
“Ketika kita membaca angka kemiskinan, pertanyaan berikutnya adalah apa yang sedang dihadapi masyarakat dan kebutuhan apa yang perlu mendapat perhatian. Menurut saya, data dan kondisi lapangan harus saling melengkapi,” katanya.
Ia juga menilai bahwa memahami kondisi setiap wilayah penting agar perencanaan pembangunan tidak hanya berorientasi pada angka agregat, tetapi turut mempertimbangkan kebutuhan masyarakat setempat.
ARAH PEMBANGUNAN NTT MEMBUTUHKAN EVALUASI
Dalam konteks pembangunan NTT, penanganan kemiskinan membutuhkan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten sesuai kewenangan masing-masing.
Pemerintah Provinsi NTT di bawah kepemimpinan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma memiliki peran dalam mengoordinasikan serta menjalankan program pembangunan sesuai kewenangan provinsi.
Di sisi lain, pemerintah kabupaten memiliki peran penting dalam merespons kebutuhan masyarakat di wilayahnya.
Menurut Imanuel, data statistik dapat menjadi salah satu bahan untuk melihat persoalan yang perlu mendapat perhatian. Evaluasi program juga penting untuk mengetahui apakah pelaksanaan kebijakan telah menjawab kebutuhan masyarakat.
Pembahasan mengenai kemiskinan, dengan demikian, tidak cukup berhenti pada angka persentase. Perlu pula perhatian terhadap penyebab persoalan, pelaksanaan program, dan perkembangan kondisi masyarakat dari waktu ke waktu.
PENGALAMAN PENDATAAN DAN PENTINGNYA LITERASI DATA
Sebagai Mitra BPS Kabupaten Sumba Barat Daya dalam kegiatan Sensus Ekonomi 2026, Imanuel terlibat dalam kegiatan pendataan sesuai tugas yang dijalankannya.
Pengalaman tersebut menjadi konteks bagi dirinya untuk menekankan pentingnya ketelitian dalam pendataan dan pemahaman terhadap kondisi masyarakat.
Meski demikian, Sensus Ekonomi memiliki tujuan dan metodologi berbeda dari pengukuran kemiskinan. Oleh karena itu, data dari setiap kegiatan statistik harus dipahami berdasarkan fungsi, indikator, dan cakupannya.
Imanuel berharap masyarakat semakin terbiasa membaca informasi statistik dari sumber resmi serta memahami periode dan konteks data sebelum menarik kesimpulan.
“Bagi saya, belajar membaca data juga berarti belajar memahami masyarakat. Kita tidak harus merasa paling tahu, sebab selalu ada hal yang perlu dipelajari, didiskusikan, dan diperiksa kembali,” ungkapnya.
MENDORONG DISKUSI PUBLIK YANG KONSTRUKTIF
Imanuel berharap isu kemiskinan dan pembangunan NTT dapat menjadi ruang diskusi publik yang terbuka, kritis, dan berorientasi pada solusi.
Masyarakat perlu memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman serta kebutuhan mereka. Pada saat yang sama, pembahasan kebijakan sebaiknya didasarkan pada informasi yang dapat diperiksa dan terbuka terhadap koreksi.
Menurutnya, partisipasi masyarakat tidak harus selalu dimulai dari posisi formal. Kepedulian terhadap persoalan daerah juga dapat diwujudkan melalui upaya mencari informasi yang benar, memahami persoalan, dan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.
“Pembangunan yang baik membutuhkan pemahaman yang baik tentang masyarakat. Data membantu kita mengenali persoalan, dialog membantu kita memahami kebutuhan, dan evaluasi membantu kita melihat apa yang perlu diperbaiki,” tutup Imanuel.
TENTANG IMANUEL KARANGO
Imanuel Karango, S.Pd., merupakan Penggiat Media Sosial asal Kabupaten Sumba Barat Daya yang menaruh perhatian pada isu pendidikan, masyarakat, pelayanan publik, transparansi, dan pembangunan daerah.
Kontak: 081246310355
Tagline: Dari lapangan, untuk masyarakat.
Kata kunci SEO: Imanuel Karango, data kemiskinan Sumba, kemiskinan Sumba Barat Daya, data BPS NTT 2025, pembangunan Nusa Tenggara Timur, angka kemiskinan Sumba, Susenas Maret 2025.
Red Susanto
Edit Welly
MABN
