Masyarakat Adat Bumi Nusantara menekankan pentingnya menjaga hubungan kekerabatan, nilai adat, alam, dan warisan budaya untuk generasi mendatang.
OEBNAMAN, TIMOR TENGAH UTARA, NUSA TENGGARA TIMUR — 30 September 2026 — Prosesi adat perjalanan Siukmaubara dari Liquisa, Timor-Leste, menuju Oebnaman, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, berlangsung pada Rabu, 30 September 2026, sekitar pukul 14.40 WITA, dalam rangkaian perkawinan adat dan hubungan kekerabatan antarkeluarga serta antarsuku.
Setelah tiba di Oebnaman, Siukmaubara kemudian menjalani kehidupan bersama istrinya di Bakete, Kecamatan Insana Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara. Prosesi tersebut dihadiri sejumlah pemangku adat dan tokoh masyarakat yang menyaksikan secara langsung jalannya kegiatan.
Di antara yang hadir adalah Tua Adat Arnoldus Beli Oebnaman, bersama unsur Suku Taone, Mone Ha, dan Mone Faun. Prosesi juga disaksikan secara langsung oleh Ketua Umum Masyarakat Adat Bumi Nusantara (LBH MABN DPP Pusat), Raphael Fahik, S.H., M.H.
Hadir pula Y. Besin, yang disebut sebagai bagian dari darah Bai Mauk Lakaan dari Fatara Suku Makhein Lulik, serta sejumlah tua-tua adat lainnya.
MEMPERKUAT HUBUNGAN KEKERABATAN
Prosesi tersebut tidak hanya dipandang sebagai bagian dari sebuah perkawinan, tetapi juga mencerminkan keberlanjutan hubungan kekerabatan dan penghormatan terhadap tata nilai adat yang diwariskan oleh para leluhur.
Bagi masyarakat adat, keberadaan para tua adat dalam sebuah prosesi memiliki arti penting dalam menjaga kesinambungan nilai, sejarah keluarga, hubungan antarsuku, serta tradisi yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Ketua Umum Masyarakat Adat Bumi Nusantara, Raphael Fahik, S.H., M.H., menyampaikan dukungan terhadap pelestarian kegiatan adat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Masyarakat Adat Bumi Nusantara mendukung pelaksanaan dan pelestarian acara adat sebagai bagian dari penghormatan terhadap leluhur, hubungan kekerabatan, serta alam sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.”
Menurut pesan yang disampaikan dalam konteks kegiatan tersebut, tradisi adat tidak semestinya berhenti pada generasi saat ini. Nilai-nilai yang diwariskan harus dapat dikenali dan dipahami oleh generasi penerus.
ALAM SEBAGAI SIMBOL IBU PERTIWI
Dalam perspektif nilai adat yang disampaikan, alam melambangkan Ibu Pertiwi dan menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Karena itu, hubungan antara manusia, alam, leluhur, dan kehidupan sosial masyarakat dipandang sebagai satu kesatuan yang perlu dihormati.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat agar perkembangan zaman tidak menyebabkan generasi muda kehilangan hubungan dengan akar budaya dan sejarah masyarakatnya.
Anak, cucu, dan cicit diharapkan tetap mengenal serta mempertahankan nilai-nilai adat yang diwariskan oleh para leluhur.
WARISAN YANG MELAMPAUI GENERASI
Pelestarian adat bukan hanya mengenai mempertahankan sebuah prosesi, tetapi juga mengenai keberlanjutan nilai dan identitas budaya.
Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat adat memiliki ruang untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai kekerabatan kepada generasi muda sekaligus menjaga ingatan kolektif mengenai asal-usul, hubungan keluarga, dan sejarah masyarakat.
Masyarakat Adat Bumi Nusantara menyatakan dukungannya terhadap upaya mempertahankan warisan tersebut agar tetap hidup dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Prosesi Siukmaubara dari Liquisa menuju Oebnaman pada akhirnya menjadi sebuah momentum yang mempertemukan keluarga, suku, tua adat, dan generasi penerus dalam satu rangkaian hubungan adat dan kekerabatan.
Dari Oebnaman, pesan yang kembali ditegaskan adalah bahwa warisan leluhur tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dipahami, dijaga, dan diwariskan kepada anak, cucu, serta cicit.
— Redaksi
Reporter Welly
